JAKARTA - Memasuki awal tahun 2026, Perum Bulog langsung memfokuskan strategi penguatan cadangan pangan nasional melalui penyerapan beras dalam jumlah besar.
Langkah ini dipandang krusial untuk menjaga stabilitas harga, memastikan hasil panen petani terserap optimal, serta mempertahankan keberlanjutan swasembada pangan yang telah dicapai Indonesia.
Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menyampaikan bahwa pihaknya menargetkan penyerapan beras pada semester pertama 2026 mencapai 3 juta ton. Target tersebut merupakan bagian dari rencana penyerapan gabah petani setara beras sepanjang tahun 2026 yang dipatok sebesar 4 juta ton untuk memperkuat stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP).
Rizal menjelaskan bahwa strategi penyerapan difokuskan pada enam bulan pertama karena periode tersebut bertepatan dengan puncak panen nasional. Dengan pola panen yang relatif konsisten setiap tahun, Bulog menilai semester pertama menjadi momentum paling efektif untuk menyerap produksi petani secara maksimal.
“Tadi sudah saya sampaikan di semester 1 target (penyerapan beras) kami 3 juta ton. Nah sisanya (nanti) di semester 2, kan kita ditarget 4 juta ton, jadi semester 2 nya tinggal 1 juta nanti,” kata Rizal di Jakarta.
Fokus Serapan di Masa Puncak Panen
Menurut Rizal, pengalaman historis menunjukkan bahwa sebagian besar produksi padi nasional terjadi pada semester pertama. Sementara itu, produksi pada semester kedua cenderung menurun akibat faktor cuaca yang berulang setiap tahun. Oleh karena itu, Bulog memprioritaskan penyerapan sejak awal tahun agar stok nasional tetap terjaga.
Ia menyebutkan bahwa penurunan produksi di semester kedua biasanya mencapai 30 hingga 40 persen dibandingkan semester pertama. Kondisi tersebut umumnya dipengaruhi oleh curah hujan tinggi yang berdampak pada proses panen dan kualitas gabah.
“Di semester 2 itu agak turun biasanya. Biasanya turun sekitar 30-40 persen dari semester 1. Itu memang biasa, seperti tradisi alam karena memang di akhir-akhir semester 2 itu kan banyak hujan. Nah kalau hujan memang tidak bisa panen dengan baik,” ucap Rizal.
Dengan mempertimbangkan faktor alam tersebut, Bulog menyiapkan langkah antisipatif agar serapan beras tidak tertinggal dan target tahunan tetap tercapai.
Kesiapan Operasional dan Koordinasi Lapangan
Rizal optimistis target penyerapan 3 juta ton pada semester pertama dapat direalisasikan. Optimisme tersebut didukung oleh kesiapan operasional Bulog, pengalaman dalam menyerap gabah dan beras petani, serta koordinasi lintas pemangku kepentingan yang terus diperkuat, mulai dari pemerintah daerah hingga petani di lapangan.
Ia menegaskan Bulog siap menyerap gabah dan beras petani dengan berbagai kualitas, selama memenuhi ketentuan usia panen. Kebijakan ini dilakukan untuk memastikan mutu beras tetap terjaga sekaligus melindungi kepentingan petani dan konsumen.
Dalam skema penyerapan tahun ini, Bulog menetapkan harga pembelian gabah sebesar Rp6.500 per kilogram. Harga tersebut diharapkan mampu memberikan kepastian bagi petani sekaligus menjaga keseimbangan pasar.
Pentingnya Disiplin Usia Panen
Di sisi lain, Rizal mengingatkan pentingnya disiplin panen agar kualitas gabah dan beras tetap optimal. Ia menilai panen gabah yang dilakukan sebelum waktunya berisiko menurunkan mutu hasil, seperti beras yang mudah pecah dan nilai jual yang menurun.
“Yang sudah matang kalau istilah buah. Jangan buahnya belum matang sudah dipanen. Nanti hasilnya tidak manis,” tegasnya.
Karena itu, Bulog mendorong peran aktif berbagai pihak untuk mendampingi petani di lapangan. Penyuluh pertanian lapangan (PPL), Babinsa, dan Bhabinkamtibmas diharapkan turut memberikan edukasi dan pengawasan agar petani memanen gabah sesuai usia panen.
Pendampingan tersebut dinilai penting bukan hanya untuk menjaga kualitas hasil panen, tetapi juga untuk memastikan proses serapan berjalan lancar dan berkelanjutan demi mendukung swasembada pangan nasional.
Antisipasi Risiko Cuaca
Selain kesiapan teknis, Rizal juga menyoroti faktor cuaca sebagai tantangan utama dalam pencapaian target penyerapan. Meski optimistis, ia mengakui gangguan cuaca ekstrem berpotensi memengaruhi kelancaran panen dan distribusi hasil pertanian.
“Sepanjang panen itu berjalan dengan lancar, tidak ada gangguan cuaca dan lain sebagainya. Kalau kita takutnya ada gangguan cuaca dan lain sebagainya, itu yang kita khawatirkan,” kata Rizal.
Oleh sebab itu, Bulog terus memantau perkembangan musim dan berkoordinasi dengan berbagai pihak agar langkah mitigasi dapat segera dilakukan jika terjadi kondisi cuaca yang tidak normal.
Stok CBP dalam Kondisi Aman
Sebagai penopang kebijakan penyerapan, stok Cadangan Beras Pemerintah saat ini berada dalam kondisi aman. Rizal menyebutkan bahwa stok CBP pada awal tahun 2026 telah mencapai lebih dari 3,2 juta ton.
Stok tersebut merupakan beras peralihan dari tahun 2025 ke 2026 yang kini tersimpan dengan baik di gudang-gudang Bulog di berbagai daerah. Ketersediaan stok ini menjadi fondasi penting bagi Bulog dalam menjalankan penyerapan beras secara agresif tanpa mengganggu stabilitas pasokan nasional.
Dengan strategi penyerapan terfokus, dukungan lapangan yang kuat, serta stok awal yang memadai, Bulog menargetkan peran strategisnya dalam menjaga harga, melindungi petani, dan memastikan ketahanan pangan nasional tetap terjaga sepanjang 2026.